Semua Tentang Finishing dengan Pelapis yang Perlu Anda Tahu

737
deco sheet

Apa itu finishing dengan pelapis? Bagaimana cara aplikasinya dan apa kelemahan ataupun kelebihannya? Pada artikel ini, lemkertas.com akan mengajak Anda untuk membahas mengenai finishing ini sekaligus merekomendasikan lem yang tepat untuk metode aplikasi coating ini.

Apa Pengertian Finishing dengan Pelapis?

Secara sederhana, finishing dengan pelapis atau finishing tempel (kadang ada yang menyebut finishing laminate) adalah salah satu tipe finishing yang dilakukan dengan pelapis. Finishing sebagaimana yang kita ketahui, adalah proses akhir sebelum suatu produk dipasarkan. Proses ini biasanya dilakukan untuk dua tujuan, yang pertama untuk meningkatkan estetika, dan yang kedua untuk memberikan perlindungan. Secara konvensional, proses finishing dilakukan menggunakan plitur atau cat. Bahan tersebut diterapkan supaya media yang difinish tampak lebih indah sekaligus terlindung dari paparan luar. Tapi seiring berjalannya waktu, proses ini juga dapat dilakukan memakai berbagai bahan. Pelapis adalah salah satunya. Berbeda dengan cat yang berwujud cairan, pelapis atau sheet atau bahan coating memiliki bentuk lembaran tipis. Lembaran ini nantinya akan diaplikasikan pada media yang akan difinish supaya media tersebut terlihat lebih menarik sekaligus lebih terlindungi.

Mengapa Finishing dengan Pelapis Dilakukan?

Tentu ada alasan tersendiri mengapa aplikasi finishing tempel dipilih dibanding finishing konvensional menggunakan bahan cat atau plitur. Alasan yang pertama adalah adanya perbedaan karakter media yang akan difinish. Pada masa lalu, media yang difinish hanya berupa kayu, besi, dan material sejenis. Namun teknologi semakin berkembang. Kini, kayu yang dipakai orang bukan hanya kayu solid, namun ada juga kayu olahan atau engineered wood. Engineered wood adalah kayu yang dibuat dari bahan kayu solid yang kemudian disatukan. Contohnya, particle board. Particle board dibuat dari serpih kecil kayu yang kemudian disatukan dalam proses tertentu.

Hadirnya kayu olahan menyebabkan suatu persoalan tersendiri. Sebab kayu-kayu seperti ini tidak bisa dicat dengan baik. Cairan cat atau plitur cenderung meresap ke dalam bahan tersebut. Aplikasi dempul memang bisa membantu, tapi harus dilakukan dengan hati-hati. Dalam keadaan ini, sheet atau laminate memberikan solusi yang baik. Pelapis yang berupa lembaran jelas tak akan “tenggelam” ke dalam engineered wood yang porositasnya besar. Maka dari itulah pelapis ini makin banyak digunakan seiring kayu olahan yang juga makin banyak dipakai.

Alasan kedua adalah alasan kepraktisan. Aplikasi finishing dengan cat kerap kali membutuhkan beberapa proses untuk hasil akhir yang bagus. Sedangkan aplikasi finishing tempel secara umum hanya perlu dilakukan “sekali tempel”. Alasan kepraktisan inilah yang kemudian membuat banyak produk laminate terjual di pasaran dengan laris.

Apa Saja Alat dan Bahan untuk Finishing dengan Sheet?

Secara garis besar, finishing dengan pelapis hanya membutuhkan 3 bahan, yakni pelapis, media yang akan dilapisi, dan lem. Lem berguna untuk merekatkan pelapis pada medianya. Beberapa laminate sendiri sebenarnya sudah dibuat secara khusus di mana bagian bawahnya mengandung perekat. Namun tidak semuanya demikian. Lagipula, adanya lem pada pelapis belum tentu hal yang bagus. Mengapa demikian?

1. Lem bisa saja kurang tahan lama. Pada laminate yang tak cepat terjual, lem bisa rusak sebelum sampai di tangan konsumen. Adanya lem yang rusak tersebut justru akan membuat proses finishing menjadi sulit.
2. Perekatan merupakan suatu proses mengikat media dengan pelapis. Lem yang dipakai harus mampu mengikat kedua bahan itu dengan baik. Daya rekat lem sendiri tergantung kecocokan lem dengan medianya dan pelapisnya. Sebab perekatan adalah sebuah proses kimia. Ketika molekul lem tak cocok dengan salah satu bahan yang akan disatukan, perekatan tak akan berhasil dengan baik. Pada sheet yang sudah ada lemnya, terkadang pilihan medianya menjadi lebih terbatas tergantung lem yang digunakan.

Karena kedua hal itulah, banyak pula pelapis yang tidak hadir secara langsung dengan perekatnya. Nah, selain ketiga bahan utama di atas, ada juga beberapa bahan tambahan yang tak kalah penting. Alat woodworking standar adalah salah satunya. Pelapis untuk bagian samping media juga penting diperhatikan.

lantai laminate

Bagaimana Cara Aplikasi Finishing dengan Sheet?

Proses finishing ini bisa dilakukan dengan cara yang relatif mudah. Aplikasinya secara umum hanya terdiri atas 3 langkah:

1. Pertama, persiapan semua alat dan bahan yang dibutuhkan.
2. Kedua, aplikasi coating dengan adhesive pilihan yang digunakan.
3. Ketiga pelapisan bagian samping atau edging.

Apa Kelebihan dan Kerugian Finishing dengan Pelapis Ini?

Kelebihan

1. Secara keseluruhan, biaya yang dikeluarkan lebih terjangkau. Dan, dengan fakta bahwa aplikasi finishing ini biasanya diterapkan pada kayu olahan, membuat produk yang dihasilkan jauh lebih murah dibanding produk kayu solid.
2. Proses aplikasi yang sangat praktis. Sebagaimana disebut di atas, secara umum, proses finishing hanya membutuhkan 3 langkah dasar.
3. Terdapat banyak pilihan untuk diambil, baik dari segi durabilitas ataupun dari aspek estetika. Harga yang harus dibayar sendiri sesuai dengan tingkat durabilitas ataupun estetika produk itu sendiri.

Kekurangan

1. Sifat bahan pelapis secara umum sangat tipis. Karenanya, aplikasinya harus dilakukan dengan hati-hati.
2. Karena warna dan gambarnya tak bisa diubah, maka hasilnya kurang “fleksibel” dibanding hasil finishing cat yang bisa dimodifikasi leluasa oleh pengrajinnya.
3. Kadangkala, kurang mampu memberikan kenyamanan ataupun keindahan.

Contoh-contoh Produk Finishing dengan Pelapis

Ada banyak produk yang telah berhasil dibuat dengan memanfaatkan tipe finishing ini. Tiga contoh di antaranya adalah sebagai berikut.

Kabinet Dapur

Banyak sekali produk kitchen set termasuk lemari atau kabinet dapur yang difinish dengan pelapis. Alasannya karena pelapis lebih tahan terhadap air dibandingkan dengan cat (meski tidak selalu benar). Dari segi tampilan, biasanya kabinet-kabinet ini hadir dengan tema yang modern dan minimalis. Namun secara umum, pilihan warna yang tersedia sangat beragam, mulai dari natural sampai warna solid cerah.

laminate kilau tinggi

Almari MDF

Bahan MDF atau Medium Density Fiberboard sangat banyak digunakan untuk membuat perabot. Salah satunya adalah almari. Biasanya almari-almari seperti ini hadir dengan harga yang lebih terjangkau. Bagian dalamnya sendiri seringkali tidak dilapisi dengan pelapis.

Office Furniture

Kebutuhan dalam jumlah yang banyak menuntut dilakukannya efisiensi. Berhubung perabot dengan kayu olahan yang difinish dengan finishing sheet lebih murah, tak heran bila furniture kantor pun menjadi jenis produk di mana HPL sampai PVC banyak digunakan.

Apa Lem yang Tepat untuk Finishing dengan Pelapis?

Lem merupakan bahan yang sangat dibutuhkan untuk aplikasi finishing tempel ini. Oleh sebab itu, proses coating memerlukan karakter lem yang tepat. Seperti apa lem yang tepat tersebut?

1. Pertama, tentu lem yang dipakai harus cocok dengan media dan pelapis itu sendiri.
2. Kedua, lem memiliki kualitas dasar adhesive seperti kekuatan, ketahanan, dan lainnya
3. Ketiga, pengaruh lem pada proses produksi seperti kepraktisan aplikasi dan kecepatan keringnya
4. Keempat, efek lem pada estetika
5. Dan kelima, efek lem pada keamanan produk secara umum

Lem yang kami sarankan untuk finishing dengan pelapis berdasarkan kriteria di atas adalah Eva Phaethon. Memanfaatkan bahan dasar ethylene vinyl acetate, Eva Phaethon merupakan adhesive yang kuat, tahan lama (tahan air, panas, dan solvent), mudah digunakan, murah, cepat kering, tak menyebabkan glue line, dan sangat ramah lingkungan. Penggunaan lem dengan kualitas seperti Eva Phaethon akan membantu Anda menghasilkan produk dengan finishing dengan pelapis yang bermutu tinggi.

Ayo, Kenali Merk Jenis Lem untuk HPL

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here